UNAIR NEWS – Menjadi seorang wirausahawan adalah pilihan yang penuh tantangan. Hal tersebut dibuktikan oleh Vito Reyner Adriananda, alumni mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2021. Selama menjalani perkuliahan, Ia aktif dalam bidang akademik dan non akademik, sekaligus memberanikan diri merintis usaha sejak semester 3 dengan fokus pemberdayaan tambak mangkrak menjadi budidaya polikultur rumput laut jenis Gracilaria verrucosa dan ikan bandeng.
Perjalanan Pendidikan
Vito menempuh studi S1 Teknologi Hasil perikanan sebagai pilihan kedua. Meskipun demikian, Ia mampu membuktikan bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk berkembang. Meski latar belakangnya di bidang Information Technology (IT) dan sempat bekerja di agency dengan fokus IT, ia mampu berdamai. “Latar belakangku di IT dan masuk perikanan sangat tidak terduga. Tapi dari hal tersebut, aku bisa berdamai hingga mendirikan usaha,” ungkapnya.
Selama Kuliah, ia aktif dalam kegiatan kepanitiaan dan organisasi, hingga menjabat sebagai Wakil Presiden BEM FPK. Vito juga mengungkapkan jika ia pernah mengikuti sejumlah kompetisi, salah satunya adalah Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Dalam kompetisi tersebut, ia mengangkat ide pemanfaatan tambak terbengkalai untuk budidaya polikultur rumput laut Gracilaria verrucosa dan Ikan bandeng. “Alasanku memilih topik ini selain karena ingin memanfaatkan potensi perikanan adalah untuk memanfaatkan tambak terbengkalai sebagai sarana budidaya, salah satunya yakni yang ada di Ujung Pangkah,” Ujarnya.
Tantangan dan Pendampingan Masyarakat
Usaha yang dirintis bersama dengan rekan kuliah memiliki fokus pada budidaya polikultur Rumput Laut Gracilaria verrucosa dan Ikan Bandeng di tambak mangkrak. Vito menyebutkan jika tantangan utama yang ia hadapi adalah sumber daya manusia (SDM) yang belum memahami teknik budidaya rumput laut.
“Terkadang masyarakat itu selalu menganggap dirinya lebih tahu dan lebih bisa terkait budidaya, bahkan ada yang menolak kehadiranku. Tapi aku selalu membuktikan kalo aku bisa dan tidak sekadar ngomong aja,” ujarnya.
Dalam proses implementasi budidaya polikultur bagi masyarakat pesisir, ia selalu memberikan pendampingan, edukasi, monitoring, hingga membantu membuka akses pasar penjualan rumput laut. Lebih lanjut, Vito menekankan komitmennya untuk memaksimalkan potensi budidaya pesisir. Menurutnya, keterlibatan SDM pesisir sangat dibutuhkan dalam budidaya.
“Kita saat melakukan budidaya membutuhkan petani untuk merawat, kemudian kita juga butuh orang untuk memanen, menjemur, hingga mengirim rumput laut sampai ke pabrik, dan itu semua membutuhkan masyarakat pesisir,” tegasnya.
Sebagai penutup, Vito mengajak mahasiswa lain untuk tidak takut mencoba berwirausaha. Menurutnya, teknologi saat ini sangat mempermudah dalam merencanakan sebuah bisnis. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya keberanian melalui prinsip learning by Doing bagi mahasiswa yang ingin mencoba.
“Kalo cuma Learning saja tidak akan tahu gimana rasanya terjun di lapangan. Begitupun sebaliknya, kalo cuma Doing saja gak ada ilmunya sama saja sia-sia,” pungkasnya.
Penulis: Muhammad Nabil Fawaid
Editor: Ragil Kukuh Imanto
Source : https://unair.ac.id/manfaatkan-tambak-terbengkalai-alumni-fpk-unair-berdayakan-masyarakat-pesisir-lewat-budidaya-polikultur/