Dari Kernet Angkot Sampai Jadi Penyiar TV Terkemuka
Indiarto Priadi, nama yang terdengar tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Ya, pria kelahiran Surabaya 26 Januari 1967 ini kerap menghiasi layar kaca berita di Indonesia. Indiarto, sapaan akrabnya, adalah jurnalis sekaligus presenter TV terkemuka di Indonesia, yakni SCTV (1993-2008) dan TV One (2008-sekarang).
Siapa yang menyangka, sejak remaja Indiarto telah terbiasa bekerja. Hal itu karena ketiadaan seorang ayah untuk menemani sang ibu bekerja menyekolahkannya. Sehingga sejak SMA, Indiarto pernah mencari uang dengan menjadi kernet angkot dan membantu usaha catering teman sekolah.
Mengalami hidup yang sulit ketika remaja, Tidak lantas membuat Indiarto menyurutkan semangatnya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Meski tidak pernah mengikuti bimbingan belajar, Indiarto berinisiatif meminjam buku-buku latihan soal untuk persiapan menempuh ujian Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).
Pilihannya, masuk perguruan tinggi negeri atau tidak berkuliah. Strateginya, memilih fakultas yang minim peminat dan di luar Jakarta agar biaya hidup murah. Indiarto yang merupakan alumnus SMAN 13 Jakarta Utara saat itu menjatuhkan pilihan di Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga. Alasannya karena peluangnya cukup besar.
“Puji Tuhan FFUA menerima saya. Jadi, bagi saya memilih berkuliah di FFUA adalah gabungan antara strategi yang tepat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap Indiarto dengan perasaan bersyukur.
Selama belajar di FF UNAIR, diakuinya kurang mampu beradaptasi dengan ilmu farmasi. Walau menyukai ilmu kimia sebagai dasar, menurut Indiarto pelajaran kimia hanya sebagian kecil dari seluruh materi yang diterima olehnya. Seperti Farmakologi, Fitofarmaka, dan Simplisia yang diakuinya cukup membuatnya kesulitan.
Selain kesulitan memahami materi di FF UNAIR, Indiarto harus bekerja untuk menanggung kebutuhan kuliah yang dibantu kakak perempuannya yang kini telah tiada. sehingga dia merasa kesulitan selama menempuh perkuliahan.
“Itu sebabnya 7 tahun lebih saya habiskan untuk menyelesaikan S1 dan profesi apoteker. Plus dengan IPK pas-pasan, malu saya mengingatnya,” kenangnya.
Indiarto terbilang aktif mengikuti kegiatan non-akademik. Di awalawal perkuliahan, dia mengikuti UKM naik gunung dan pecinta alam serta Pers Kampus. Namun kegiatan itu tidak lama, karena waktunya banyak tersita untuk kuliah, praktikum dan bekerja part timer di radio swasta EBS FM dan Strato FM di Surabaya. Indiarto sempat menjadi Wakil Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Farmasi UNAIR selama dua tahun.
Kesan dan pelajaran berharga selama berkuliah di FF UNAIR, yang diperoleh Indiarto dari Pendidikan S1 sampai profesi, adalah berpikir analitis dan sistematis. Selain itu, Ilmu tentang obat-obatan dan pengobatan menurutnya dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan hidup manusia. Jika masalah kesehatan semakin kompleks, maka perlu pendalaman secara sistematis untuk menemukan akar masalah dan segera mencari solusinya.
Selain itu, Indiarto juga sangat menghargai para dosennya, yang berkenan disapa dengan panggilan Mbak dan Mas. Keakraban panggilan itu, menurut Indiarto, membuat para mahasiswa tidak ragu berdiskusi ataupun bergurau di luar jam kuliah.
“Oh ya, yang berkesan dan paling berharga adalah karena saya memperoleh pacar saat susah dan sekarang jadi istri saya, dialah Anita Puspadewi, teman seangkatan saya di FFUA,” celetuk Indiarto sambil tersenyum.
Selepas Pendidikan Profesi pada Oktober 1992, Indiarto ikut mengurus administrasi Wajib Kerja Sarjana (WKS) di Kanwil Departemen Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Namun, dirinya tidak cukup percaya diri untuk menggantungkan pada pilihan itu, karena ketidakjelasan kapan realisasi recruitment itu jadi penyebabnya.
Pada saat yang sama, Indiarto harus segera mandiri dan lepas dari ketergantungan terhadap keluarganya. Sang Ibu wafat beberapa saat sebelum Indiarto ujian skripsi. Dirinya teramat begitu sedih, bagaimanapun sang ibu adalah tulang punggung keluarga sejak ia masih remaja di Jakarta.
Indiarto memang masih bekerja sebagai penyiar radio. Namun, itu hanya cukup untuk hidup pas-pasan. Di tengah situasi sulit itu, SCTV Surabaya membuka lowongan kerja sebagai Reporter di akhir tahun 1992.
Merasa memiliki latar belakang radio, serta lulusan Fakultas Farmasi UNAIR yang dianggapnya bergengsi, dia segera mengejar peluang itu. Dia melewati saringan yang banyak, mulai dari psikotes, menulis esai, tes kamera serta wawancara dengan Bahasa Indonesia dan Inggris.
“Dan sekali lagi, puji Tuhan, saya diterima dan mulai bekerja di SCTV Surabaya pada 1 April 1993,” ingat Indiarto dengan bangga.
Dari Farmasi ke Jurnalistik
Ada alasan yang unik dari Indiarto memilih jurnalistik sebagai jalan hidupnya. Meski menjadi lulusan Fakultas Farmasi UNAIR, ada ketidakyakinan diri dari Indiarto untuk mengaplikasikan ilmu Kefarmasian yang ia peroleh dengan susah payah. Hal itu tampaknya yang menjadi pendorong utama mengapa dirinya memilih jurnalistik.
Dia berkelakar, sampai saat ini, pemerintah pun tidak segera memanggilnya untuk menjalankan WKS. Lambat laun ilmu itu luntur dari ingatan, karena tidak pernah digunakan. Indiarto juga merasa rendah diri untuk mencoba peluang di Rumah Sakit atau industri obat dan jamu, karena IPK yang pas-pasan dan pengalaman yang minim di farmasi.
“Yang saya miliki itu hanya pengalaman bersiaran di radio, mengerjakan sedikit laporan lalu lintas dan bursa efek Surabaya plus selembar ijazah lulusan FFUA,” jelasnya..
Bagi Indiarto, berada di jalur televisi menjadi pilihan paling terbuka dan mewah yang bisa ia peroleh, karena dia bisa lebih percaya diri. Apalagi saat itu belum banyak yang mengenal televisi dan pekerjaanpekerjaan di dalamnya (SCTV mulai mengudara tahun 1990).
Alhasil pesaingnya relatif sedikit. Selain itu, ada kesamaan antara menjadi jurnalis dan apoteker, menurut pandangannya. Berpikir analitis dan sistematis yang ia peroleh selama berkuliah, menolong dirinya mengerti cara mencari angle liputan, menulis naskah, serta menyampaikan laporan live secara singkat, namun runtut.
“Dengan faktor-faktor tersebut, rasanya saya lebih mudah meniti karier di dunia jurnalistik televisi. Membuat liputan, menulis laporan, membuat rundown siaran bahkan bersiaran di layar tv adalah buah berkuliah di FFUA dengan semua pengalamannya,” ucap Indiarto dengan bangga.
Di dunia jurnalistik, Indiarto mempunyai beragam prestasi yang syarat pengalaman, seperti; (a) pernah mewawancarai Menlu AS Colin Powell setelah tsunami Aceh. (b) Terpilih belajar Demokrasi dan Jurnalistik tv di London, Washington, Bangkok dan Brazilia City pada rentang waktu 2001-2009. (c) Mengepalai proyek Debat Capres dan Pilpres pada 2009, 2014 dan 2019. (d) Memberi pelatihan kepada jurnalis dan presenter baru lewat SCTV Goes to Campus, Menuju Layar Liputan 6, News Bus dan Campus One.