Jadi Perempuan Pertama yang Pimpin Dua Puslitbang BKKBN
Zahrofa Hermi Wahyoeni lahir di Surabaya, 26 Juli 1960. Perempuan yang akrab disapa Yuni itu merupakan alumnus Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga tahun 2000. Sebelum
menempuh studi S2 Yuni telah mengawali karirnya sebagai ASN sejak tahun 1988. Kini Yuni menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera serta Kepala Puslitbang Kependudukan BKKBN. Yuni patut bangga sebab menjadi perempuan pertama yang memimpin dua puslitbang sekaligus di BKKBN. Meski tak mudah, dirinya selalu berusaha menyeimbangkan kedua perannya dalam melakukan tugas manajerial.
“Dengan dua pusat penelitian yang saya pimpin, selain melakukan pekerjaan manajerial dengan para penelitian di dua puslitbang, saya juga harus melaksanakan manajerial pekerjaan rutin, melakukan bimbingan teknis, monitoring, supervise di 34 provinsi di Indonesia,” jelas Yuni.
Sebagai Kapuslitbang Yuni selalu melakukan monitoring dan evaluasi terkait hasil-hasil penelitian dari 24 peneliti di BKKBN bersama mitra peneliti. Hasil penelitian tersebut akan menjadi acuan bagi kebijakan BKKBN ke depan. Selain itu, puslitbang BKKBN juga membangun daya saing dengan penelitian-penelitian internasional melalui jurnal ilmiah yang diterbitkan.
“BKKBN mempunyai amanah mengendalikan kelahiran di mana Total Fertility Rate menjadi 2,1 pada tahun 2024. BKKBN memiliki tugas untuk mengomunikasikan, menginformasikan, dan mengedukasi pasangan usia subur serta menyediakan layanan kontrasepsi untuk mewujudkan program keluarga sejahtera di Indonesia,” papar perempuan asli Surabaya tersebut.
Didoakan Tetangga Jadi Menteri
Sejak duduk di bangku kuliah, Yuni dikenal sebagai sosok yang gigih dan fokus pada target pencapaiannya. Dirinya mengakui, semasa menjadi mahasiswa, dia tak terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstra kampus lantaran lebih menyukai belajar. Yuni akan selalu berusaha menguasai materi yang dipelajarinya dengan baik. Dirinya tak akan malu bertanya pada teman-temannya untuk menjelaskan materi yang belum dia pahami. Bahkan ia kerap menghabiskan waktu belajar bersama hingga bermalam di rumah teman-temannya. Kegigihan Yuni dalam belajar tentu bukan tanpa alasan. Yuni ingin mewujudkan keinginan dirinya dan orangtuanya untuk lulus kuliah tepat waktu.
Yuni sempat mengenang pengalaman menarik di mana ibunya bercerita bahwa ada seseorang yang berkelakar bahwa kelak putrinya akan menjadi seperti Harmoko, menteri penerangan di era orde baru. Mendengar hal itu, ibu Yuni hanya tersenyum sembari mengamini. Ibunya lantas mendoakan agar Yuni juga dapat mencapai kesuksesan sebagaimana tokoh-tokoh hebat di negeri ini. Kini Yuni sangat bersyukur sebab telah mencapai keberhasilan sebagaimana doa dari ibu dan orang-orang yang menyayanginya dahulu.
Sempat Dilema Karir dan Keluarga
Dilema peran sebagai ibu rumah tangga dan pekerjaan sempat dialami oleh Yuni. Sebagai wanita karir, dirinya harus pandai membagi waktu antara urusan pekerjaan dan keluarga. Ia pernah berpikir apakah harus meninggalkan karir yang telah ia capai dengan susah payah agar mampu menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga secara optimal. Beruntung, Yuni memiliki keluarga yang selalu mendukung keputusan baik Yuni. Dirinya pun akhirnya memilih untuk tetap melanjutkan karirnya sebagai ASN dan menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga ketika di rumah.
“Ada yang mengatakan bahwa perempuan pekerja itu bagaikan kaki kanan di rumah, kaki kiri di luar. Dengan dua fungsi ini tentunya harus bisa kita jalani dengan seimbang,” ungkap Yuni.
Kendati tetap melanjutkan karir, Yuni selalu mengutamakan keluarga di atas kesibukan pekerjaannya. Bagi Yuni, keluarga adalah faktor yang paling berperan di balik kesuksesannya sekarang. Terutama, anak laki-laki semata wayangnya yang selalu mendukung Yuni agar menjadi ASN berprestasi.
Sebagai alumnus UNAIR, Yuni berharap supaya almamaternya tersebut dapat mencetak lulusan yang berkualitas. Baik dari segi pengetahuan, sikap, dan moral. Ia ingin semua alumni UNAIR berperilaku bersih dan bebas korupsi, dan UNAIR menjadi perguruan tinggi yang terus meningkatkan daya saing di kancah nasional dan internasional.