Penggagas Rumah Singgah Anak Jalanan
Jika Anda mengenal konsep rumah singgah pada program-program sosial pengentasan anak jalanan, Mohammad Yoto-lah penggagasnya.
Ber gelut di dunia anak jalanan sejak kuliah membuat pria yang akrab disapa Mas Yoto ini dekat dengan dunia pendampingan anak-anak yang terabaikan secara sosial tersebut.
Aktif di PLAN Internasional (sebuah NGO) sejak masa kuliah, Mas Yoto bahkan sempat menyamar sebagai anak jalanan saat mengikuti dosennya
melakukan survei pada kesehatan dan tumbuh kembang anak-anak tersebut.
”Kebetulan skripsi saya juga mengambil tema tentang hubungan perilaku jajan dengan status kesehatan anak-anak dan tumbuh kembang gigi,” paparnya.
Bekal dari survei anak-anak jalanan itulah yang membawanya bekerja di sebuah organisasi nirlaba non-pemerintah (NGO), yakni PLAN Internat al. Kemudian, saat mengurusi anak jalanan itulah, Mas Yoto dan timnya di PLAN mengenalkan konsep rumah singgah atau yang populer dengan istilah shelter untuk anak-anak jalanan.
Singkatnya, rumah singgah merupakan sebuah shelter. Fungsinya sebagai tempat tinggal, pusat kegiatan, dan pusat informasi bagi anak jalanan. Rumah singgah merupakan proses informal yang memberikan suasana resosialisasi kepada anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku di masyarakat setempat. Dengan demikian, mereka tidak lagi dianggap sebagai anak-anak asosial yang harus dihindari, dimusuhi, bahkan diabaikan.
Aktif dalam pendampingan dan advokasi sosial pada anak jalanan membawa Mas Yoto kembali menekuni pendampingan pada saat harus menjalani penempatan sebagai PNS di Nusa Tenggara Timur (NTT). Penempatan itu harus dijalani pasca ia diterima bekerja sebagai abdi negara di Kanwil Kementerian Kesehatan pada 1997.
Namun, kali ini yang harus didampingi adalah para ibu hamil dan anakanak. Sebab, ia menjabat kepala seksi kesehatan ibu dan anak (KIA). Ini pertama dalam sejarah kepala KIA di Kanwil Kemenkes dijabat alumnus kesehatan masyarakat. Sebab, biasanya pejabatnya dari kalangan dokter atau bidan (keperawatan).
Namun, itu sesuai dengan bekal ilmu yang dipelajari Mas Yoto saat mengambil magister (S-2) di kampus asalnya, Unair. Mas Yoto mengambil jurusan kesehatan ibu dan anak (KIA). Ia sempat pindah dari jurusan awal. Semula sempat mempelajari gizi selama 3 bulan.
Di jurusan baru itu, Mas Yoto satu-satunya mahasiswa laki-laki. Sebab, mayoritas pengambil jurusan KIA adalah perawat, bidan, dan dokter yang mayoritas perempuan. Dosennya mayoritas dari dokter obgyn.
”Saya memutuskan pindah jurusan karena melihat angka kematian ibu dan anak di NTT saat itu terhitung tinggi,” katanya. Prihatin dengan hal ini, Mas Yoto pun melakukan banyak pendampingan yang disupport penuh oleh pemerintah daerah.
Bahkan, di bidang KIA inilah Mas Yoto juga sering berurusan dengan donor dari luar negeri yang peduli dengan kesehatan ibu dan anak di tanah air. Tak hanya itu, Mas Yoto pun menemukan jodohnya di NTT. Dia dokter muda dari Blitar lulusan dari FK Unair yang menjalani penempatan kerja (PTT) di NTT.
Pulang ke Surabaya ke Dinkes Jawa Timur
Sukses berkarir di luar pulau, Mas Yoto akhirnya dipanggil pulang ke Surabaya. Ia dipromosikan di Kanwil Kesehatan Jatim sampai sekarang. Kini Mas Yoto menjabat Kabag Penyusunan Program (Sungram).
Kepindahan Mas Yoto ke Surabaya ini awalnya tidak disetujui oleh kepala dinasnya di NTT. Kesuksesannya mempromosikan kesehatan reproduksi di NTT dengan turunnya angka kematian ibu dan anak membuat sang kepala dinas berat melepasnya ke Jawa.
Sampai-sampai ketika sudah pindah ke Surabaya, ia masih kerap dimintai tolong oleh sang kepala dinas untuk membuatkan proposal tentang KIA. Di antaranya yang dia ingat adalah proposal tentang Indonesia Infant and Maternity Health yang merupakan proyek dari Unicef.
Bukan hanya itu. Mas Yoto kini juga dipercaya sebagai ketua Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Jatim yang mengoordinasikan tiga wilayah. Yakni, Jawa Timur, Jawa Tengah, serta Bali dan Nusa Tenggara.
Berkarir di dunia kesehatan masyarakat (public health) bagi Mas Yoto adalah jalan hidup. Sebab, usai lulus SMA pada 1989, dia sempat diterima di jurusan yang cukup mentereng di kampus teknik terbaik di Jawa Timur.
Namun, Mas Yoto belum puas. Pria yang selalu meraih nilai bagus di mata pelajaran matematika sewaktu sekolah di SMP dan SMA itu masih galau. Hal itulah yang membulatkan tekadnya untuk kembali mengikuti tes UMPTN pada 1990.
Untuk tes kali kedua ini, Mas Yoto memilih jurusan Geologi UGM Jogja dan Kesehatan Masyarakat di Unair. Hasilnya, pria kelahiran Kediri, 22 Oktober 1969 ini diterima di Kesehatan Masyarakat Unair. Meski hanya pilihan kedua, Mas Yoto menjalaninya dengan senang.
”Terus terang, saya waktu itu tak betah kuliah di teknik karena PR-nya banyak. Saya menempuh tes lagi dan alhamdulillah diterima di Kesehatan Masyarakat yang menjadi jalan karir saya saat ini,” terang Mas Yoto.
Sahabat Desa, Agent of Change Kesehatan Masyarakat
Pria ramah ini mengatakan, mewujudkan upaya promotif-preventif di bidang kesehatan masyarakat tidak hanya dilakukan lewat kampanye di media. Yang lebih penting adalah melibatkan agent of change yang dekat dengan masyarakat.
Hal itu diwujudkannya dengan membentuk program Sahabat Desa. Sebagai agent of change, Sahabat Desa adalah program melibatkan mahasiswa di tengah-tengah masyarakat untuk mempromosikan upayaupaya kesehatan masyarakat.
Sahabat Desa memiliki dua bidang garapan. Pertama, menyambungkan akses masyarakat ke sarana dan fasilitas kesehatan. Kedua, membantu kekosongan peran tenaga kesehatan di tengah masyarakat.
Ini adalah program perintisan yang dijalin Persakmi dengan Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF). Program tersebut sudah sukses berjalan dalam beberapa bulan terakhir di Malang. Selanjutnya, program yang sama akan dikembangkan di wilayah lain dengan menggandeng pihak pemerintah provinsi.
Menurut Mas Yoto, jika upaya promotif dan preventif ini sukses di tengahtengah masyarakat, kasus bangkrutnya anggaran BPJS untuk menalangi kebutuhan kesehatan masyarakat bisa dicegah dengan menghemat anggaran pemerintah.
Lebih jauh program ini juga bisa mengubah mindset masyarakat untuk membentuk perilaku budaya hidup sehat. Prinsipnya, lebih baik mencegah daripada mengobati yang biayanya jauh lebih besar. Ke depan, angka harapan hidup masyarakat juga meningkat.