Maspiyah

Jadi Pendidik dan Lampaui Cita-Cita Masa Kecil

“La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim, Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan dari Allah SWT yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”

Mengabdi sebagai seorang pendidik adalah cita-cita hidup sosok Dr. Maspiyah M.Kes. Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) ini mengaku sejak lama telah menaruh minat besar terhadap dunia pendidikan. Dengan bangga, ia mengatakan bahwa cita-citanya itu telah terwujud, bahkan melampaui apa yang ia bayangkan sebelumnya.

Maspiyah pada awalnya ingin menjadi seorang guru. Namun, kecerdasan dan ketekunannya dalam belajar membawa Maspiyah mendapatkan hasil lebih. Ia menjadi seorang dosen tetap, dan sempat menjadi pimpinan di tingkat program studi, fakultas, maupun universitas di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Maspiyah kecil memang telah memiliki ketertarikan sebagai seorang pendidik. Bisa dibilang, ia adalah satu di antara segelintir anggota keluarganya yang menjadi pendidik. Keinginan Maspiyah untuk menjadi pendidik ditandai dengan kesenangannya dalam berbagi ilmu dan mengajarkan berbagai hal pada teman-temannya.

“Keluarga saya itu malah banyak yang petani, yang jadi guru itu tidak banyak. Jadi, memang jiwa saya yang ingin jadi guru karena saya senang menyampaikan sesuatu pada orang lain, pengen orang lain itu bisa. Jadi, saya lihat figur guru itu dulu senang rasanya,” terangnya. 

Perjalanan Menjadi Pendidik

Maspiyah bercerita, kiprahnya sebagai seorang pendidik tidak dapat terlepas dari jejaknya sebagai mahasiswa UNAIR saat jenjang magister dan doktoral. Tahun 1998, Maspiyah yang sebelumnya telah menjadi dosen tata rias di UNESA itu melanjutkan pendidikan di Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) UNAIR.

“Memang passion saya menjadi dosen. Saya kuliah, dulu masih IKIP Surabaya, memang untuk mencetak guru gitu, ya. Waktu itu nilai saya paling tinggi. Jadi, dulu nggak harus skripsi karena nilai saya tinggi, untuk jadi dosen harus skripsi. Saya lulus langsung mengabdi menjadi asisten sambil nunggu SK turun begitu turun menjadi dosen,” papar perempuan kelahiran Tuban 1964 itu.

“Ditambah lagi, waktu itu kebetulan ada formasi dosen, akhirnya sama pembimbing saya ditawari kamu bisa jadi dosen, kebetulan saya ambil ikatan dinas itu salah satunya mau ditempatkan menjadi dosen di mana pun. kebetulan di unesa ada formasi jadi masuk di UNESA,” tambahnya.

Enggan berhenti belajar, Maspiyah melanjutkan studinya di FKM UNAIR demi meraih gelar magister. Guna mendalami ilmu serta meningkatkan pengetahuannya dalam pendidikan tata rias, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP) menjadi program yang Maspiyah pilih dalam studi lanjutnya. Barangkali, kedua bidang tersebut terdengar begitu jauh dan berbeda. Namun, siapa sangka bahwa dalam tata rias, ujar Maspiyah, mempelajari ilmu perilaku adalah hal yang begitu penting.

“Dulu, ketika IKIP Surabaya menjadi UNESA, kami diminta untuk mengambil pendidikan lanjut di luar universitas. Saya mikir yang linear, jadi saya ambil Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP) karena masih ada di kesehatan. Yang mengajar saya ada dari farmasi, kedokteran, karena tata rias ini tidak melulu make up tapi juga mempelajari perilaku penggunaan kosmetik,” terangnya.

Kendati demikian, tidak mudah bagi Maspiyah untuk menjalani peran rangkap sebagai dosen, mahasiswa, sekaligus seorang ibu. Maspiyah bercerita, momen di mana ia menjalani program magister bertepatan dengan kehamilannya yang kedua. Untuk itu, bukan hal yang mudah baginya untuk mengarungi semua kegiatan.

“Saat menjalani studi S2, saya memperoleh beasiswa TMPD, yaitu program beasiswa peningkatan kemampuan dosen. Selama itu, saya juga menjalankan peran sebagai ibu. Sebagai ibu, tentunya ada tanggung jawab untuk mengurus keluarga. Saat S2, saya sedang hamil anak kedua, sambil mengajar dan kuliah. Memang perlu pandai-pandai membagi waktu antara belajar, mengajar, dan mengurus keluarga,” tutur Maspiyah.

Meskipun jabatan sekretaris program studi, kepala program studi telah berada di tangannya, namun Maspiyah berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitasnya. Hingga akhirnya, tahun 2015, Maspiyah lulus dari program S3 FKM UNAIR dan gelar doktor resmi berada dalam genggamannya.

Berkat dedikasi Maspiyah yang begitu besar terhadap pendidikan, ia berhasil mencicipi satu per satu tingkatan pimpinan di tingkat program studi maupun dekanat. Ia sempat menjajal posisi sekretaris program studi tata rias. Kemudian, jabatan itu meningkat menjadi ketua program studi. Pada tahun 2019, ia diamanahi untuk menjadi dekan Fakultas Teknik UNESA. Dan terbaru, Maspiyah didaulat sebagai Ketua Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Pendidikan UNESA.

“Sebelum menyelesaikan studi S2, saya sempat menjabat sebagai sekretaris jurusan. Setelah itu, saya melanjutkan ke jenjang S3 dan kemudian menjadi ketua program studi S1 Pendidikan Tata Rias. Karena tata rias termasuk dalam Fakultas Teknik (FT), saya terlibat di bidang tersebut yang dulunya dikenal sebagai kejuruan teknik. Dari tahun 2019 hingga 2024, saya diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai dekan FT. Pada tahun 2024, saya dipindahkan menjadi kepala lembaga pendidikan dan sertifikasi profesi,” pungkasnya.

Riwayat Pekerjaan

  • Sekretaris Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga

    Universitas Negeri Surabaya

    2000 - 2014

  • Ketua Program Studi Pendidikan Tata Rias

    2016 - 2019

  • Dekan Fakultas Teknik

    Universitas Negeri Surabaya

    2019 - 2024

  • Kepala Lembaga Pendidikan dan Sertifikasi Profesi (LPSP)

    Universitas Negeri Surabaya

    2024 - now

Riwayat Pendidikan

  • S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat,

    Universitas Airlangga

    1998 - 2000

  • S3 Ilmu Kesehatan

    Universitas Airlangga

    2010 - 2015

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga