Ukir Sejarah sebagai Dekan Pertama
"Memang baik untuk menjadi orang penting, tetapi jauh lebih penting untuk menjadi orang baik"
Di balik setiap langkah yang diambil oleh seorang pemimpin, tersimpan tanggung jawab yang besar sebagai satu amanah yang mendalam. Dengan integritas dan ketulusan dalam mengemban amanahnya, seorang pemimpin dapat menghadirkan kebermanfaatan dan kemajuan bagi jiwa-jiwa yang dipimpinnya.
Hal senada juga terpatri dalam benak Dr. Diana Rahmasari, S.Psi., M.Si.,Psikolog, salah satu alumnus UNAIR yang kini telah menjadi seorang pemimpin di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Ia secara resmi dilantik pada Jumat (5/4/2024) dan mengukir sejarah sebagai dekan pertama mengingat fakultas tersebut juga diresmikan di tahun yang sama.
Langkah Perjalanan menuju Kesuksesan
Langkah perjalanannya dimulai ketika ia memutuskan untuk menempuh sarjananya di Fakultas Psikologi UNAIR. Ia mengatakan jika dinamika psikologi sebagai remaja pada saat itu, ditambah pengalamannya sebagai salah satu korban perundungan, membawanya pada keputusan untuk memilih jalan tersebut.
Dengan berbagai hal empiris yang ia alami, ia senantiasa berusaha untuk melihat dan membantu seseorang untuk keluar dari permasalahan psikologisnya. Ia mengatakan bahwa, "Saya ingin helping people untuk cure, release dari masalah-masalahnya agar bisa bertumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi terbaiknya."
Ia mengungkapkan rasa syukur atas keputusan yang dibuatnya pada saat itu. Menurutnya, apa yang ia dapatkan dan membawanya sampai pada titik ini adalah keputusan tersebut. Ia juga tidak lupa untuk selalu menerapkan konsep-konsep psikologi yang dia dapatkan selama berkuliah dan semakin mendukung pencapaiannya.
Kendati demikian, pencapaian yang didapatkannya saat ini tentu bukanlah perjalanan yang singkat. Pasalnya, ia pada awalnya tidak memiliki pemikiran untuk menjadi seorang pengajar atau dosen. Satu impiannya pada saat itu adalah untuk berkuliah setinggi-tingginya.
Namun, ia juga berpikir bahwa pendidikan S2 dan S3 mestinya melalui jalur sebagai dosen sehingga ia mendaftarkan diri di UNESA ketika ada peluang. Awalnya, ia bertugas sebagai dosen di Jurusan Bimbingan Konseling (BK) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNESA sebelum akhirnya dibentuklah Prodi Psikologi dan ia menjadi sekretaris departemen dan kemudian di periode berikutnya menjadi ketua laboratoriumnya.
"Kemudian, pada tahun 2007 didirikanlah Prodi Psikologi UNESA dan saya ditunjuk sebagai Sekprodi, kemudian menjadi Kalab Prodi UNESA," ungkapnya.
Perannya di UNESA kian meningkat setelah ia berhasil menamatkan pendidikan S3-nya pada tahun 2018 di Fakultas Psikologi UNAIR. Tepat di tahun berikutnya, tahun 2019, ia resmi dilantik sebagai ketua Jurusan Psikologi FIP di UNESA. Peran tersebut terus meningkat hingga akhirnya pada tahun 2024 ia dipercaya sebagai pemimpin dari fakultas baru yang dibentuk dengan nama Fakultas Psikologi UNESA.
"Setelah lulus S3 Fakultas Psikologi UNAIR, tahun 2019 saya dilantik sebagai Ketua Jurusan Psikologi FIP UNESA. Tahun 2021 saya ditunjuk dan diminta Rektor Unesa untuk menjadi Ketua Pusat Krisis UNESA yang secara khusus menangani COVID-19 di UNESA," jelasnya.
"Tugas di pusat krisis juga menangani kesehatan mental civitas akademika Unesa serta kegiatan mitigasi kebencanaan. Pada tahun 2024, saya diamanahi sebagai Dekan Fakultas Psikologi," lanjutnya.
Memandang Tugas sebagai Amanah
Di sisi lain, ia meyakini bahwa segala hal yang terjadi dalam hidup tiap manusia telah digariskan oleh benang takdir Tuhan. Atas rida yang telah diberikan-Nya jualah ia yang kini mengemban tugas sebagai pemimpin fakultas terus memandang perannya dengan penuh tanggung jawab.
"Kewajiban saya bekerja ikhlas, tuntas, keras, dan profesional sebagai bentuk tanggung jawab amanah yang diberikan kepada saya. Pertanggungjawaban saya kepada Allah SWT, Rektor, MWA (Majelis Wali Amanat, Red), dan SAU (Sistem Akuntansi Umum, Red) UNESA yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengemban amanah," tuturnya.
Selain melaksanakan kewajibannya semaksimal mungkin, ia masih senantiasa bertawakal kepada Allah, dan menyerahkan segala evaluasi kinerjanya kepada pihak penilai. Oleh sebab itu, ketika ditanya terkait keinginannya untuk menjabat di posisi yang sama di periode selanjutnya, ia menyerahkannya kepada takdir-Nya dan penilaian atas kinerjanya.
Jika digariskan dan dinilai layak, maka ia harus siap kembali melaksanakan kewajiban sebagai satu hal yang diamanahkan kepadanya. Bagaimanapun, sejatinya ia mengaku jika dirinya tidak memiliki ambisi pada satu posisi dan jabatan yang dia dapatkan di dunia.
"Saya memegang prinsip untuk tidak berambisi pada jabatan karena dunia cukup di genggaman, bukan di hati. Yang terpenting bagi saya adalah bekerja, berkarya, bermanfaat, menolong, dan berbuat kebaikan dalam berbagai konteks dan versi," ujarnya.
Atas kepemimpinannya, ia berharap dan berdoa agar bisa terus bekerja dengan amanah, jujur dan bertanggung jawab, serta memenuhi harapan pimpinan universitas. Bukan hanya itu, ia juga akan terus berusaha untuk bisa membawa Fakultas Psikologi UNESA untuk sejajar dengan fakultas serupa yang telah ada sebelum-sebelumnya, termasuk lulusannya.
"(Harapan saya, Red) bisa membawa Fakultas Psikologi UNESA sejajar dengan fakultas psikologi yang sudah hadir eksis terlebih dahulu, terutama fakultas psikologi di perguruan tinggi negeri. Saya juga memiliki harapan mahasiswa lulusan Fakultas Psikologi UNESA banyak diserap dalam dunia kerja dan mampu bersaing dengan lulusan fakultas psikologi ternama," tutupnya.