Mencintai Psikologi Modern dan Pengembangan SDM
“... ketika punya bawahan yang mau banyak belajar, sehingga mereka bisa menjadi lebih berhasil dan sukses dibanding kita sendiri”
Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) merupakan perkembangan dari ilmu psikologi. Sesuai dengan namanya, jenis psikologi ini ranah studinya adalah individu di dalam industri dan organisasi. Ilmu ini hadir untuk meningkatkan perilaku kerja, lingkungan kerja, dan kondisi psikologis dari pekerja. Hari Sumitro, alumnus Fakultas Psikologi Universitas Airlangga merupakan salah satu Ksatria Airlangga yang mencoba mendalami dan mencintai bidang Psikologi Industri dan Organisasi.
Masa Kuliah Harsum di UNAIR
Harsum merupakan panggilan akrab yang melekat pada diri Hari Sumitro. Bercerita mengenai masa kuliahnya di Fakultas Psikologi UNAIR, bermula dari ketertarikan Harsum dengan bacaan dan buku-buku psikologi modern dan motivasi. Alasan lainnya yaitu berkaitan dengan hal pelaksanaan event dan training-training khususnya bidang Sumber Daya Manusia (SDM).
“Dalam Perjalanan kuliah saya, kemudian tertarik untuk mempelajari lebih dalam ilmu psikologi industri atau pengembangan SDM,” ujar Harsum.
Harsum bercerita bahwa dirinya lebih banyak aktif di kegiatan organisasi luar kampus, yaitu kegiatan keagamaan, sosial dan kegiatan yang menangani event, seperti pelatihan untuk mahasiswa. Selain itu, Ia juga mulai membuka bisnis dengan merintis usaha kecil bersama teman-temannya seperti membuka rental komputer, fotokopi dan supplier Alat Tulis Kantor (ATK) ke pabrik dan perusahaan di Sidoarjo, Pasuruan dan Mojokerto.
Sembari berkuliah di UNAIR, ternyata Harsum juga menempuh kuliah di kampus sebelah yaitu di ITS dengan mengambil jurusan Teknik Fisika. Menurut Harsum, perbedaan nyata yang terlihat antara kuliah di teknik dan di soshum yaitu mengenai cara berfikir teman-teman di Psikologi yang cenderung berbeda dengan mahasiswa teknik, tentunya mahasiswa Psikologi jauh lebih kritis.
“Kuliah di Psikologi dengan diskusi yang egaliter baik dengan dosen atau teman sangat melatih kemampuan analisa masalah serta keberanian mengungkapkan pendapat atau gagasan,” jelas pria kelahiran Samarinda itu.
Selain itu, tambahanya, bersama teman-teman, Ia cukup sering membuat karya tulis dan ikut lomba karya ilmiah yang juga turut memberikan pengalaman baru baginya untuk berpikir lebih komprehensif dan belajar lebih banyak analisa masalah.
Meniti Karir
Setelah lulus kuliah di awal 2005, sambil tetap menjalankan usaha kecil dengan teman di Surabaya, Harsum kemudian diajak temannya bekerja di perusahaan yang baru membuka project pertambangan batubara di daerah Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Harsum bertugas mengurus personalia dan SDM selama kurang lebih tiga tahun.
Sekitar dua tahun kemudian, Ia bertemu dengan seniornya di UNAIR yang mengajak untuk membantu Biro Psikologi dalam proyek-proyek rekrutmen karyawan sehingga banyak memberikan pengalaman baru dalam sistem penerimaan karyawan baru di beberapa perusahaan swasta dan instansi pemerintah hingga ke luar Kalimantan Timur.
“Sekitar pertengahan tahun 2008, saya kemudian pindah ke Kabupaten Berau dan bekerja di salah satu perusahaan besar menangani perekrutan karyawan baru dan perencanaan karyawan di bagian HRD. Namun karena adanya krisis di perusahaan, akhirnya saya dan ratusan karyawan lainnya dirumahkan sehingga saya kembali ke kota Samarinda ,” ungkapnya.
Saat di Samarinda, sosok yang mengidolakan Presiden B.J. Habibie itu kembali ke perusahaan tambang batubara namun skala kecil dan menjadi Manager HRD. Hanya berselang satu tahun, Ia pindah ke perusahaan baru yang bekerjasama dengan salah satu grup perusahaan swasta nasional yang tergolong besar yang baru membuka divisi pertambangan batubara. Di sana, Harsum menangani perijinan dan hubungan pemerintah. Selama disana, perusahaan tersebut kembali membuka unit usaha baru di Pelayaran untuk menunjang pertambangan batubara dan juga sebuah divisi baru di bidang kehutanan yang diberi nama Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Perkebunan Kelapa Sawit.
“Sejak tahun 2013, saya diamanahi menjadi Direktur Utama PT. Hutan Berau Lestari dan Direktur PT. Pelayaran Trans Sarana Makmur. Selain itu, selama kurang lebih 3 tahun saya diminta untuk menjadi asisten dosen di Fakultas Psikologi sebuah PTS di Samarinda, sehingga saya juga perlu banyak membaca dan belajar lagi ilmu-ilmu yang dulu pernah dipelajari di kampus,“
Karir dan Keluarga
Pekerjaannya yang hampir selalu bersentuhan dengan manusia, memberikan pengalaman jauh lebih banyak untuk mengenal dan bertemu dengan orang dari seluruh Indonesia, dengan berbagai macam karakter, kebiasaan dan sifatnya. Mulai dari yang tinggal di kota hingga pelosok pedalaman. Mulai dari rakyat biasa, petani, nelayan hingga pejabat pemerintahan. Selain itu, Harsum juga bisa berkunjung ke beberapa daerah lain yang belum pernah dikunjungi membuatnya lebih bersyukur bisa hidup di Indonesia.
Peranan keluarga sangat penting untuk mendukung karir, sehingga Harsum selalu berusaha untuk menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Urusan keluarga, Harsum berusaha agar setiap hari libur tidak ada acara lain selain di rumah bersama keluarga. Namun, jika ada acara di luar rumah, Ia akan berusaha untuk selalu mengajak keluarga.
Di akhir, Harsum berharap semoga UNAIR lebih banyak mengadakan program magang yang bisa dikerjasamakan dengan dunia industri untuk mahasiswa semester 5-6 ke atas, sehingga mahasiswa juga mendapat pengalaman bekerja sesuai bidang ilmunya.
“Karena pembelajaran di bangku kuliah lebih banyak teori bisa diterapkan langsung di dunia kerja. Mahasiswa juga bisa lebih banyak belajar hal-hal baru di luar bidang keilmuan yang dipelajari di kuliah, khususnya softskill, seperti hubungan interpersonal, komunikasi dan leadership,“ tutup Harsum.