Sosok Perempuan yang Geluti Karier Human Resource di Sektor Tambang
“Ketika memiliki target, maka segeralah selesaikan, jangan ditunda-tunda”
Umi Lestari, SPsi merupakan alumnus Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 1993. Sejak lulus, ia telah bergelut di dunia pertambangan, khususnya pada bidang human resource (sumber daya manusia). Saat ini, ia menjabat sebagai Human Capital General Affair (HCG) Operations pada salah satu perusahaan tambang terkemuka, PT Global Makara Teknik.
Semasa Kuliah di UNAIR
Perempuan yang akrab disapa Umi itu bercerita, semasa kuliah, hampir seluruh proses belajar berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Hanya saja, sebagai perantau ia mengaku bahwa perbedaan budaya menjadi tantangan. Dirinya yang lahir dan besar di Jawa Tengah harus merasakan perbedaan budaya yang cukup besar.
Kendati demikian, perbedaan itu tidak lantas mengganggu pendidikan Umi hingga tuntas. Sebaliknya, ia justru merasa tertarik untuk mempelajari karakteristik rekan-rekannya yang dominan berasal dari Jawa Timur. Selain itu, ia juga terus bereksplorasi dan beradaptasi dengan budaya masyarakat sekitar.
“Menurut saya, salah satu hal yang paling mengesankan adalah saya dapat mengenal karakter orang-orang Jawa Timur dan Indonesia Timur lainnya yang mempunyai karakter yang berbeda dari asal saya, Jawa Tengah,” terang Umi.
Berkarier sebagai Human Resource Sektor Tambang
Pekerjaan di sektor pertambangan kerap kali diidentikan dengan maskulinitas. Hal itu lantaran sektor pekerjaan ini hampir selalu didominasi oleh laki-laki. Tak heran jika stigma sektor pertambangan adalah pekerjaan untuk laki-laki menjadi semakin lekat. Akan tetapi, stigma itu berhasil ditepis oleh Umi.
Sejak lulus dari Fakultas Psikologi UNAIR pada tahun 1998, Umi lebih banyak menggeluti kariernya di bidang yang kerap dianggap keras itu. Bahkan, karier Umi terbilang berjalan mulus. Ia mulanya menapaki karier sebagai recruitment supervisor pada perusahaan distributor alat berat, PT Hexindo Adiperkasa sejak 2003 hingga 2006. Setelahnya, perempuan 47 tahun itu lebih banyak berkarier pada bagian human resource di perusahaan sektor tambang.
Tercatat, ia pernah menjadi recruitment specialist, EAP coordinator, dan human resource specialist pada PT THIESS Contractor Indonesia pada 2006 hingga 2010. Kemudian, ia melanjutkan kariernya sebagai human resource superintendent pada PT Borneo Alam Semesta pada 2010 hingga 2015.
Bekerja di sektor pertambangan, Umi mengaku dirinya tidak merasakan kendala berarti. Hanya saja, ia dituntut untuk dapat merelakan waktunya dengan keluarga, terlebih jika terdapat proyek khusus. “Alhamdulillah, selama ini saya tidak merasakan kesulitan bekerja di bidang tersebut. Hanya saja harus lebih kuat, ya, kalau jauh dari keluarga. Apalagi jika harus kunjungan ke proyek tertentu yang bisa lebih dari dua minggu. Namun kembali lagi ke awal, sudah dipahami bahwa itu adalah konsekuensi dari pekerjaan,” ujarnya.
Peran Keluarga
Umi sempat berhenti bekerja dan menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Hal itu ia lakukan untuk menjalankan peran utamanya sebagai seorang ibu bagi sang buah hati. Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Pada tahun 2018, ia kembali bekerja pada bidang human resource di PT Global Makara Teknik hingga saat ini.
Memulai kembali bekerja setelah lama vakum menjadi tantangan tersendiri bagi Umi. Ia mengatakan bahwa dirinya perlu kembali belajar dan mengejar ketertinggalan. Akan tetapi, berkat dukungan dan semangat dari keluarga, ia dapat menjalani semuanya dengan rasa bahagia. “Saya merasakan momen jatuh bangun ketika harus memutuskan untuk pindah haluan sebagai ibu rumah tangga. Saat itu, ketika saya memutuskan kembali bekerja, saya harus benar-benar mulai dari awal, menunjukkan kemampuan saya dan mengejar ketertinggalan,” tuturnya.
Di balik kesuksesannya berkarier di sektor pertambangan, selalu ada dukungan dan semangat dari orang-orang tersayang yang tak pernah padam. Ya, itulah yang Umi dapat dari keluarganya. Umi mengatakan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam mendukung kariernya.
Meski menjalani peran ganda sebagai seorang ibu dan wanita karier, tapi hal itu tak lantas membuat Umi kewalahan. Bagi Umi, menjaga kualitas komunikasi dengan keluarga adalah hal yang terpenting. Itulah yang membuatnya kini dapat menekuni peran ganda tanpa hambatan berarti.
“Yang pasti peran dukungan keluarga yang membuat saya mampu berperan menjadi istri, ibu dan sekaligus karyawan. Bagi saya, yang penting adalah menjaga kualitas. Kualitas dalam menjalani peran pekerja dan kualitas dalam menjalani peran di keluarga maupun di perusahaan, ” ucapnya.
Selain keluarga, pesan dan pelajaran yang ia peroleh dari almamater, UNAIR, juga selalu ia ingat dan ia amalkan. Salah satu yang paling membekas dalam benaknya adalah pesan dari sang dosen semasa berkuliah di UNAIR. “Dulu dosen saya berpesan agar saya segera menuntaskan target dengan segera. Bahwa target itu tidak untuk ditunda-tunda. Pesan itulah yang selalu saya pegang sampai saya berkarier hingga saat ini,” katanya.
Terakhir, Umi tak lupa mengucapkan beribu terima kasih pada almamater tercinta. Ada banyak hal yang patut ia syukuri selama menjadi bagian UNAIR. Bukan hanya perihal dukungan karier, tetapi juga pelajaran hidup begitu bermakna.