Menjadi Praktisi HR Profesional di Perusahaan Nasional Hingga Multinasional
“Seek first to understand, then to be understood.” – Stephen Covey
Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Prinsip hidup inilah yang memotivasi Hanny Meiriza Hariyanto untuk terus semangat dalam mengejar karier impian. Kegigihannya pun kini telah membuahkan hasil. Perempuan yang akrab disapa Hanny itu sudah melalang buana di dunia human resources (HR) lebih dari satu dekade. Selama perjalanan itu, ia pernah menapaki karier baik di perusahaan berskala nasional sekaligus multinasional. Saat ini, Hanny menjabat sebagai country human resources manager Jiva, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi pertanian.
Kendati berada di puncak karier, posisi tersebut tak lantas membuat Hanny berhenti untuk belajar hal baru. Baginya, menjadi seorang praktisi HR professional ibarat agen perubahan, yang bertanggung jawab dalam membangun kapasitas perusahaan melalui kapabilitas sumber daya manusia.
Rela Merantau demi Jurusan Impian
Sejak di bangku sekolah menengah, Hanny mempunyai keinginan untuk melanjutkan studi di jurusan psikologi. Saat itu, ia sengaja mengambil Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) sebagai pilihan pertama. Kendati jauh dari kota kediamannya—DKI Jakarta—Hanny mengaku, alasan ia merantau agar belajar hidup mandiri.
“Dari SD (Sekolah Dasar, Red), saya suka mandiri. Jadi setelah lulus, saya cari jurusan psikologi yang punya akreditasi bagus di luar Jakarta dan menjatuhkan hati ke UNAIR,” ujarnya.
Kuliah, Organisasi, dan Relawan SeBaya
Semasa kuliah, Hanny dikenal sebagai sosok yang aktif bersosialisasi. Ia pernah terlibat dalam organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Mata Angin, dan beberapa kepanitiaan. Salah satu momen berkesan menurut Hanny adalah saat angkatan BEM-nya sukses menggelar acara perdana Psychofest.
Di sela-sela kesibukan kuliah dan organisasi, ia juga mendedikasikan dirinya sebagai relawan komunitas. Yakni, relawan Unit Pelayanan Psikologi (UPP) UNAIR serta pengajar bahasa Inggris untuk anak-anak di World Vision, daerah Wonokromo. Selain itu, Hanny sempat menjadi relawan SeBaya, sebuah komunitas kesehatan seksual dan reproduksi remaja di bawah naungan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Timur. Tentu bagi orang yang berkecimpung di dunia psikologi, hal tersebut sangat membekas dalam relung hatinya karena dapat membantu Orang dengan HIV AIDS (ODHA).
“Di Indonesia, berbicara mengenai penyakit HIV/AIDS masih tabu. Sehingga pengalaman yang paling berkesan, ketika saya mendapat kesempatan sebagai konselor dan bertugas mendampingi ODHA,” kata Hanny.
Kilas Balik Perjalanan Karier sebagai HR
Usai menyandang gelar sarjana pada tahun 2008, perempuan kelahiran Kota Surabaya itu memutuskan balik ke Jakarta. Hanny mengawali kariernya sebagai rekruiter di salah satu perusahaan outsourcing. Di sana, ia pertama kali jatuh cinta dengan dunia HR dan bertekad menekuni bidang tersebut setelah mendapat motivasi dari manajernya, Pak Taufik, lewat buku berjudul Human Resource Champions karya Dave Ulrich.
“Di situ dijelaskan bagaimana HR berperan besar dalam perusahaan. Ternyata tidak perlu jadi psikolog klinis untuk membuat manusia itu berfungsi semaksimal mungkin, sebab HR pun tugasnya memaksimalkan kompetensi dan fungsi dari manusia,” jelasnya.
Kemudian, ia sempat berkarier di bank dan menetap sementara di Kota Semarang. Hanny bercerita, dirinya beberapa kali berpindah divisi selama masa kerja. Dengan tuntutan pekerjaan yang tidak mudah, namun ia tetap bersyukur mendapat pengalaman baru dan koneksi. “Salah satu batu loncatan untuk saya bisa mempelajari fungsi lain dalam organisasi HR,” imbuhnya.
Kesempatan bertumbuh juga diperoleh Hanny saat bekerja di perusahaan asuransi, yang mana ia banyak belajar dari mantan Chief Executive Officer (CEO) tersebut. “Sebagai junior level bisa direct report ke CEO itu sebuah keberuntungan. Beliau memberi tahu saya bahwa menjadi HR juga harus paham bisnis agar bisa menjelaskan bisnis organisasi kalau bisnis partner kita membutuhkan bantuan,” terang Hanny.
Adaptasi dari Perusahaan Nasional Ke Multinasional
Tahun 2018 menandai awal karier Hanny menjajaki dunia teknologi berskala global dengan basis di Shanghai, China. Ia mengaku, tantangan saat itu adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dan budaya yang berbeda.
“Bukan hanya belajar terkait skill set, tetapi juga bagaimana bekerja dengan rekan kerja yang punya kultur berbeda dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari,” ungkapnya.
Terbaru, Hanny diamanahi menjadi Country Human Resource Manager Jiva, perusahaan multinasional yang berpusat di Singapura. Kini, setelah lebih dari lima tahun, ia mampu beradaptasi dengan keberagaman kultur.
Pentingnya Support System Keluarga dan Diri Sendiri
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang membutuhkan keseimbangan, entah itu dalam dunia kerja atau kehidupan pribadi. Hanny mengatakan, ia merasa beruntung memiliki orang tua dan keluarga yang senantiasa mendukung dirinya dalam meraih impian.
“Saya sangat bersyukur punya privilese supporting system yang luar biasa. Dari awal, orang tua saya tipikal yang membebaskan anaknya selama bisa bertanggung jawab. Lalu, suami dan anak yang suportif juga membuat saya mampu mengaktualisasikan diri seperti yang saya inginkan,” tutur Hanny.
Meski begitu, ia tak menampik bila dirinya kerap membutuhkan pertolongan orang lain. Sebagai lulusan psikologi, Hanny menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental dan keberanian untuk meminta bantuan. “Selain dari aspek spiritual, saya tetap butuh psikolog ketika saya secara mental merasa tidak baik-baik saja,” terangnya.
Menebar Kebermanfaatan dan Kebaikan bagi Sesama
Selama perjalanan meniti karier, Hanny pun memetik beberapa pelajaran kehidupan. Di zaman yang serba instan ini, ia percaya manakala proses tidak akan mengkhianati usaha. Selanjutnya, manfaatkan peluang yang ada dengan semaksimal mungkin dan jangan membatasi diri untuk belajar.
“Almarhum CEO saya pernah bilang, manusia itu punya kapabilitas yang luar biasa besar dan tidak ada batasnya. Nah, yang membatasi hanyalah manusia itu sendiri,” ucap alumnus Universitas Indonesia itu.
Terakhir, menurut Hanny, sejatinya esensi menjadi manusia adalah dapat bermanfaat dan meninggalkan jejak kebaikan untuk orang lain. “Di dunia ini, kita tidak bisa membuat semua orang suka sama kita jadi berbuat baiklah kepada siapapun,” pungkasnya.