Zulfikar As‘ad

 

Santri Yang Berprofesi Dokter dengan Fokus Manajemen Rumah Sakit

Menjadi santri tidak hanya bereksistensi dengan memelajari kitab saja, akan tetapi juga mempunyai peran penting di masyarakat luas. Inilah sosok Dr. dr. HM. Zulfikar As‘ad, MMR yang sejak kecil didik sebagai santri dan ketika dewasa mengabdikan dirinya sebagai dokter. Santri kelahiran Jombang, 26 Februari 1964 ini merupakan anak dari KH. Moh. As’ad Umar, pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.

Dokter yang lebih akrab dipanggil  “Gus Ufik” itu terinspirasi oleh ayahnya yang semasa hidupnya menjadi tokoh agama, akan tetapi pikirannya terbuka dengan dunia pendidikan. Menurut ayahnya, baik pendidikan agama maupun umum itu sama pentingnya. Buktinya, Gus Ufik beserta tujuh saudaranya memiliki latar belakang Pendidikan yang beragam. Demikian juga menantu-menantunya, sehingga mereka saling melengkapi.

“Karena itu, ayah kami mempunyai ide di Pesantren Darul Ulum untuk mengembangkan berbagai sekolah atau madrasah unggulan dan sekolah internasional yang lulusannya dapat diterima di berbagai perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun di luar negeri,” ungkapnya.

Pentingnya pendidikan dan berperan di masyarakat menghantarkan Gus Ufik memilih Program Doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR) sebagai pilihan. Beliau berharap dapat mendapatkan ilmu baru tentang kesehatan masyarakat, khususnya perumahsakitan, lebih spesifik lagi tentang manajemen keuangan rumah sakit.

“Sehingga saya, dapat mengembangkan kapasitas dan keilmuan saya yang berlatar belakang dokter dan Manajemen Rumah Sakit dari UGM Yogyakarta, dengan harapan dapat berkiprah lebih baik lagi untuk institusi rumah sakit serta untuk umat dan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Kehidupan Kuliah “Gus Ufik” di UNAIR

Dikatakan Gus Ufik, semasa di UNAIR, beliau sangat menyukai mata kuliah yang langsung bisa diterapkan dalam keseharian, terutama terkait dengan pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan keuangan. Menurutnya, hal merupakan salah satu sisi yang sangat penting bagi setiap organisasi maupun institusi.

Adapun dalam perkuliahan lainnya, dia menyenangi model perkuliahan yang dialogis, dimana dosen lebih sebagai fasilitator, dan bertindak sebagaimana teman dalam berdiskusi dengan memberikan pancingan masalah kemudian dipecahkan bersama teman-teman kuliah yang memiliki latar belakang hampir sama sebagai dokter, namun berasal dari berbagai daerah dan institusi yang berbeda-beda. Sehingga pengalaman yang disampaikan dalam diskusi, dapat menjadi salah satu rujukan solusi bagi teman yang lain.

Selain aktif di kelas, selama Program Doktoral di UNAIR, Gus Ufik juga aktif terlibat di kegiatan luar kelas. Beberapa kali dia diundang mahasiswa S1 untuk menjadi pembicara di seminar -seminar. Pengalaman lainnya adalah terlibat penelitian, beliau meneliti 20 rumah sakit umum dan swasta se-Jawa Timur dari berbagai daerah, Beliau sangat bersyukur, karena mayoritas Direktur Rumah Sakit yang diteliti, mayoritas merupakan alumni UNAIR. Sehingga  dia sangat terbantu dalam proses penelitian. 

Salah satu kegiatan penting selama Program Doktoral Gus Ufik di UNAIR adalah Ketika berhasil mendapatkan Beasiswa Sandwich Program dari DIKTI di Griffith University Brisbane Australia. Dimana ketika itu, beliau menjadi satu-satunya yang lolos dari FKM UNAIR. Pengalaman tersebut sangat penting baginya, karena mendapatkan kesempatan belajar tentang perumahsakitan serta melihat secara langsung bagaimana rumah sakit di Australia dengan sistem dan jaringan yang sangat terintegrasi baik sesama rumah sakit maupun sistem kesehatan secara nasional.

Konsisten Di Bidang Rumah-Sakit

Setelah lulus dari Doktoral FKM UNAIR, Gus Ufik merasakan betul akses komunikasi semakin bertambah dan semakin baik. Hal itu pula yang menjadikannya mendapat kepercayaan lebih terutama di organisasi dimana saya beraktifitas. Salah satunya sebagai Ketua Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU). Di organisasi profesi Dokter atau Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dimana beliau dipercaya sebagai salah satu Anggota Dewan Pakar dan sebagai Majelis Kode Etik di Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI). 

Demikian juga untuk organisasi perumahsakitan seperti MUKISI (Majelis Usaha Kesehatan Islam Seluruh Indonesia) dan PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia). Disamping itu, dia juga mendapatkan kepercayaan sebagai Ketua Dewan Pengawas di beberapa Rumah-sakit dan sebagai Pengurus utama beberapa yayasan yang bergerak di bidang Pendidikan dan Kesehatan.

Berbagai kepercayaan itu diraih bukan tanpa sebab, sejak lulus S1 sebagai dokter, Gus Ufik bersama orang tuanya membantu mengelola Yayasan Darul Ulum yang semula adalah Yayasan Pendidikan atau pesantren, dikembangkan dengan mendirikan Pendidikan Tinggi Kesehatan (Keperawatan dan Kebidanan) dan sebuah rumah sakit serta yayasan yang dikelolanya. Menurutnya, pendirian dan pengelolaan itu berkat dukungan berbagai pihak terkait.

Sebagai contoh saat berhasil merintis pendirian rumah-sakit baru pada awal tahun 2000-an dengan berbagai tantangan dan seluk beluk aturan yang harus dipersiapkan. Hal itu dilakukan karena untuk mendirikan rumah sakit, harus menyesuaikan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Beruntungnya beliau memiliki teamwork yang baik sehingga semua persyaratan dapat dipenuhi dengan baik.

Disamping itu, adalah bagaimana menjalin komunikasi dengan semua pihak yang terkait. Hal itu juga yang sempat beliau rasakan, karena kebetulan waktu itu Gus Ufik belum menempuh pendidikan di UNAIR, sehingga sangat minim mengenal sejawat yang berkaitan dengan perumahsakitan. Hal itu sangat berbeda setelah beliau menempuh pendidikan di UNAIR yang betul-betul memperkaya dalam jaringan dan mempermudah dalam berkomunikasi untuk berbagai urusan. 

Terpilih Sebagai Nakhoda Asosiasi Rumah Sakit NU

Dalam pendirian Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU) akhir tahun 2016, beliau sudah dipercaya mengatur nakhoda ARSINU. Program pertama yang menjadi prioritasnya adalah mengupayakan agar seluruh rumah sakit dalam asosiasi dapat bekerjasama dengan BPJS, karena ketika itu memang belum semua rumah sakit anggota ARSINU dapat mengakses BPJS. 

Yang selanjutnya dikomunikasikan dengan Dirut BPJS sehingga kemudian, semua anggota ARSINU dapat bekerjasama dengan BPJS. Hal itu dapat terwujud salah satunya dikarenakan keberadaan ARSINU yang secara resmi sebagai organisasi berinduk pada PERSI, sehingga menjadi mitra KEMENKES dalam membahas dan mempersiapkan segala peraturan perumahsakitan yang diberlakukan di Indonesia. 

Capaian lain adalah pada saat menghadapi Pandemi Covid-19, dimana seluruh rumah sakit ARSINU terlibat aktif sesuai dengan kelasnya, sebagai rujukan nasional, provinsi maupun kabupaten/kota, bahkan secara aktif juga membantu dalam mensukseskan program vaksinasi untuk sekolah/madrasah dan pesantren sekitar. 

Demikian juga untuk Lembaga Kesehatan PBNU, Gus Ufik bersama Tim sangat bersyukur karena disaat Pandemi Covid-19, dapat hadir ditengah masyarakat mendukung pemerintah dalam penanganannya, melalui fatwa-fatwa Ulama NU di tengah pertentangan antara kebenaran dan ketidakbenaran COVID-19, termasuk juga dukungan pemberian vaksin kepada masyarakat, dimana para Kyai NU siap untuk di vaksin terlebih dahulu disaat orang masih mempertentangkan halal-haramnya Vaksin, sehingga kemudian diikuti oleh umat dan seluruh masyarakat Indonesia.

Riwayat Pekerjaan

  • Ketua Dewan Pengawas

    RSI A. Yani Surabaya, RSI Jemursari Surabaya, RS Unipdu Medika Jombang, RSI Nyai Ageng Pinatih Gresik

    2019 - now

  • Ketua 1

    Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya

    2019 - now

  • WAKIL Rektor

    Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum Jombang

    2017 - now

  • Majlis Pimpinan

    Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

    2010 - now

Riwayat Pendidikan

  • S1 Kedokteran

    Universitas Gadjah Mada

  • S2 Magister Manajemen Rumah Sakit

    Universitas Gadjah Mada

  • S3 Ilmu Kesehatan

    Universitas Airlangga

  • Sandwich Program

    Griffith University

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga