UNAIR NEWS – F Aziz Manna merupakan nama pena dari sastrawan Fatkhul Aziz SS. Ia merupakan alumnus Ilmu Sejarah tahun 1998 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR). Aziz, sapaan akrabnya, mengawali kiprah dunia kepenulisan sejak masa kuliah hingga sekarang meraih prestasi di kancah nasional. Kariernya bermula ketika ia tergabung dalam komunitas sastra dan teater.
Aziz menapaki bidang sastra pada tahun 1999. Kala itu, ia mengasah kemampuan bersama kawan-kawan Teater Gardu Puisi Surabaya (Gapus) dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP). Selama delapan tahun, ia menekuni menulis puisi dan mencoba mengirimkannya ke media cetak.
Kemudian tahun 2004-2005, sembari menyelesaikan skripsi, ia sempat magang di koran Duta Masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi fondasi kariernya yang terus berkembang, hingga akhirnya menerima penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, sebuah ajang bergengsi bagi dunia kesusastraan Indonesia, di bidang puisi pada 2016.
Aziz menceritakan bahwa dinamika perkuliahan sangat berpengaruh dalam perjalanan kariernya. “Pada zaman saya, peran prodi dan fakultas mungkin tidak terlalu besar, tetapi lingkungan kampus yang semarak dengan kelompok-kelompok studi model cangkrukan di warung kopi dan kantin sangat berpengaruh. Saya termasuk angkatan terakhir ketika FIB masih menyatu dengan FISIP, Gesekan wacana antara sastra dengan ilmu-ilmu sosial cukup tinggi,” ungkapnya
Menekuni Puisi
Pilihan untuk menjadi penulis puisi, menurutnya, tidak lain karena lingkungan pergaulan. “Kebiasaan nongkrong di warkop berbumbu diskusi sastra dan budaya, juga lingkungan teater Gapus memang tempat mangkalnya para pembelajar puisi. Meski memang ada sejumlah teman yang menekuni cerpen hingga novel dan naskah drama,” tutur penulis antologi puisi Playon tersebut.
Aziz aktif menulis dan mengirimkan karyanya ke berbagai media hingga berhasil menerbitkan buku. Karyanya antara lain, kumpulan puisi Playon yang memenangi sayembara manuskrip buku Dewan Kesenian Jawa Timur tahun 2015. Selain itu, buku lainnya, yaitu Jihwa gra van cana, Dunia dari Keping Ingatan, Siti Surabaya, Tanggulendut, dan berbagai karya lainnya.
Sebagai lulusan sejarah, Aziz merasa latar belakangnya memperkaya gaya dan tema tulisannya, terutama dalam puisi. Ia sering menyisipkan unsur sejarah yang memberikan sentuhan berbeda dari karya yang ia hasilkan. Hal itu membuat karyanya dapat sekaligus menjadi media pembelajaran dan sumber pengetahuan bagi pembaca.
Terus Berproses
Meski begitu, perjalanan Aziz tidak mudah. Pria kelahiran Sidoarjo itu juga menyayangkan minimnya penghargaan untuk sastrawan di Indonesia. “Saya terinspirasi sosok Kuntowijoyo. Relevansinya sangat banyak dan kreativitas menjadi pusat utama FIB sebenarnya. Keahlian tulis menulis, apalagi yang bernilai sastrawi akan sangat bagus. Mungkin yang disayangkan adalah di Indonesia ini masih minim penghargaan atas kreativitas itu,” ujarnya.
Pada akhir, Aziz menyampaikan pesan pengingat untuk mahasiswa UNAIR. “Terus saja berproses sesuai gairah dalam diri. Jangan takut mencoba dan mencoba. Soal masa depan tak perlu ditakutkan meski menyita pikiran,” ucap penyair yang pernah menjadi ketua Teater Gapus itu.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Edwin Fatahuddin Ariyadi Putra
Sumber : https://unair.ac.id/alumnus-unair-f-aziz-manna-yang-aktif-berkarya-lewat-puisi/